2003
MAKNA LITURGI DALAM IBADAH JEMAAT*
Kata liturgi berasal dari kata Yunani ”leitourgia”. Arti sebenarnya adalah pekerjaan atau pelayanan yang dilakukan untuk bangsa sebagai suatu persekutuan politik.[1] Pada mulanya leitourgia dalam dunia Yunani lebih dekat dengan bidang politik, sebagai pelayanan khusus kepada masyarakat. Pada masa pemerintahan Romawi leitourgia diperluas dan diatur menjadi sistem pajak dan cukai, sehingga tidak terasa lagi sebagai pelayanan kepada bangsa tetapi sebaliknya, sebagai suatu beban yang berat. Warga negara yang kaya diharuskan membayar pajak kekayaan, selain itu mereka juga membayar leitourgia sebagai pelayanan khusus kepada masyarakat.[2] Terutama diberikan kepada orang-orang miskin yang tidak dapat memikul biaya upacara-upacara rakyat yang ditentukan bagi mereka.
Selanjutnya istilah leitourgia berkembang, makin lama arti politis memudar dan dipakai sebagai istilah biasa – pelayanan. Pelayanan dalam arti umum, melakukan sesuatu pekerjaan yang diperuntukkan bagi pihak lain. Aristoteles, misalnya, memakai istilah liturgia dalam arti ini. Ia berkata tentang liturgia budak-budak dan liturgia tenaga buruh; maksudnya ialah pelayanan budak-budak untuk tuannya dan pelayanan tenaga-tenaga buruh untuk majikan mereka.[3] Perkembangan yang lebih lanjut, leitourgia mendapat arti baru: arti kultis, yaitu sebagai pelayanan ibadah (kultus) kepada dewa-dewa. Pelayanan itu biasanya terdiri dari persembahan korban dan hymnus. Walau punya arti kultis tapi dalam pelayanan itu masih lebih menonjol arti politisnya, karena korban dan hymnus yang dipersembahkan pada dewa dalam kultus itu, dilakukan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan politis, yaitu untuk keselamatan rakyat.[4]
A. LITURGI DALAM ALKITAB
Kita juga dapat menemukan istilah liturgi dalam Alkitab. Istilah liturgi dalam Alkitab yang pada perkembangannya mempengaruhi/mendasari dalam hal pemahaman kita tentang liturgi.
A.1. Istilah Liturgi dalam Perjanjian Lama
Jika kita mencari kata liturgi dalam bahasa asli Perjanjian lama kita tidak akan menemukannya, sebab kata liturgi berasal dari bahasa Yunani. Tetapi kita tetap bisa menemukan kata liturgi dalam Perjanjian Lama terjemahan bahasa Yunani, septuaginta (LXX).[5] Dalam septuaginta istilah leitourgia yang diambil lebih dekat pada arti kultis. Pelayanan yang berhubungan dan diperuntukkan kepada dewa-dewa. Oleh karena itu istilah leitourgia dalam septuaginta selalu berkaitan dengan pelayanan kepada Tuhan oleh imam.(Bil.8:22; Taw.11:14-15; Yeh.45:4; Yoel 1:13; Ul.18:7)
Istilah leitourgia hanya dipakai dalam hal persoalan agama, menunjuk kepada pelaksanaan tugas imam dan orang Lewi dalam kemah suci serta Bait Allah, terutama dalam pelayanan mezbah.[6] Septuaginta selalu menggunakan kata “leitourgia” untuk suatu pekerjaan yang dilaksanakan oleh para imam secara tertib, hidmat dan sesuai dengan undang-undang upacara ibadat; suatu pelayanan yang berguna untuk seluruh jemaat.
A.2. Istilah Liturgi dalam Perjanjian Baru
Leitourgia dalam Perjanjian Baru juga dipakai dalam arti yang sama dengan yang dipakai dalam kaitan persembahan korban yang diberikan kepada Tuhan oleh imam-imam (Ibr 9:21; Ibr 10:11; Ibr.8:2,6)
Tetapi untuk ibadah Perjanjian Baru istilah tersebut tidak dipakai dalam artian tadi, karena ibadah Perjanjian Baru bukan kelanjutan kultus Perjanjian Lama. Kultus Perjanjian Lama telah digenapi oleh Tuhan Yesus Kristus dan di dalam Dia mulai mulai suatu ibadah baru yang lain sifatnya.[7] Jadi dalam ibadah Perjanjian Baru tidak ada lagi korban karena sudah digenapi sendiri oleh Tuhan Yesus sendiri, satu kali untuk selamanya. (Ibr.7:27)
Oleh Lukas, dalam Kisah Para Rasul 13:2, leitourgia mendapat arti lain. Dalam nas ini leitourgia dimaksudkan oleh Lukas ialah suatu ibadah doa, yang diselenggarakan oleh ketujuh orang yang disebut dalam nas.[8] Nas ini penting kita perhatikan sebab Ia adalah nas pertama yang memberi arti lain kepada leitourgia, yaitu leitourgia sebagai ibadah jemaat, sekalipun ibadah itu hanya suatu ibadah-doa kecil yang dihadiri oleh tujuh orang.
Selain Lukas, kita juga menemukan arti lain leitourgia yang dipakai oleh Rasul Paulus dalam surat Roma 15:16. Ia mengingatkan pada pekerjaan apostolatnya. Dalam ayat ini Paulus mengingatkan kita kepada kultus Perjanjian lama, pekerjaan suci dan persembahan. Tetapi istilah itu ia pakai dalam arti lain: oleh pekerjaan Roh Kudus orang-orang yang bukan Yahudi, yang dahulu tinggal jauh dari Allah, di dalam kegelapan penyembahan berhala, dikeluarkan dari situ, dikuduskan dan dijadikan anggota dari umat Allah. Orang-orang ini oleh Rasul paulus diumpamakan sebagai korban, yang Ia persembahkan kepada Allah oleh pekerjaan apostolatnya
Arti yang lain juga kita temukan dalam Roma 15:27 dan II Kor.9:12. dalam kedua nas ini Rasul Paulus menyebut “pemberian kasih” yang diberikan oleh jemaat Makedonia dan Akhaya kepada jemaat di Yerusalem untuk menolong mereka, dalam artian inilah istilah leitourgia dipakai dalam kedua nas tersebut.
Jika kita mencermati kedua nas tersebut maka kita akan menemukan dua arti dasar leitourgia. Pertama, arti politis; kewajiban dari anggota-anggota jemaat yang kaya untuk menolong anggota-anggota jemaat yang miskin. Kedua, arti kultis; sebagai pelayanan kudus, pelayanan keagamaan yang agung (seperti dalam septuaginta). Setelah melihat dan mencermati istilah leitourgia dalam Perjanjian Baru, jelas memperlihatkan kepada kita bahwa leitourgia mempunyai arti yang sangat luas. Oleh karena itu tidak dapat dibatasi pada hal pelayanan ibadah saja. Ia mencakup seluruh pelayanan jemaat dan karena itu ia tidak dapat dipisahkan dari diakonia dan apostolat.
B. LITURGI TERKINI
Gereja masa kini biasanya menamakan ibadahnya suatu ‘liturgi’, kebiasaan ini terdapat pada banyak gereja. Liturgi sudah menjadi istilah teknis dalam Ilmu Teologi untuk menunjuk kepada berkumpulnya jemaat untuk beribadah, tata kebaktian, urut-urutan ibadah, dll.
Namun jika kita lihat arti kata ‘liturgi’ dalam Alkitab, sebenarnya tidak ada dasar alkitabiah untuk membenarkan penggunaan kata ‘liturgi’ sebagaimana yang biasa kita pakai sekarang. Kata leitourgia dalam Perjanjian Baru sebenarnya tidak mengacu kepada kumpulan jemaat yang beribadah. Hanya dalam Kis. 13:12 kata leitourgia dipakai untuk berbicara tentang suatu persekutuan orang Kristen yang beribadah kepada Allah dan berpuasa. Tapi persekutuan ini bukan persekutuan jemaat, melainkan hanya beberapa orang anggota jemaat Antiokhia yang berkumpul untuk berdoa dan berpuasa. Jadi berdasar nas yang satu ini (Kis.13:2) kita cenderung menerima kebiasaan gereja untuk mengistilahkan ibadahnya sebagai liturgi.
Kebiasaan memakai istilah liturgi sebagai suatu ibadah/tata ibadah juga dipakai oleh gereja-gereja Kristen Jawa (GKJ). Disebutkan secara jelas dalam buku liturgi GKJ terbitan sinode; liturgi adalah tata ibadah dan bukan ibadah itu sendiri. Tata ibadah ada/timbul dari ibadah, bukan sebaliknya. Dan secara tersirat kebiasaan ini diperkuat lagi oleh pernyataan dalam tata gereja GKJ :
“ kebaktian yang dilayankan Gereja harus dengan menggunakan tata kebaktian. Isi pokok tata kebaktian itu adalah adiutorium/votum, salam, puji-pujian, penyampaian hukum Allah, penyesalan dosa, doa, berita anugerah, petunjuk hidup baru, persembahan, pelayanan Firman Allah, pengakuan Iman dan penyampaian berkat.”[9]
Pengertian liturgi yang kita pahami masa kini membawa pemahaman kita pada sebuah arti liturgi yang mewujudkan bentuk ibadah tertentu, didalamnya menunjukkan persatuan jemaat, baik dengan Tuhannya maupun dengan anggota-anggota jemaat sesamanya. Dengan demikian ada dua unsur yang terdapat dalam liturgi; kegiatan dari pihak Tuhan dan kegiatan dari pihak umat. Kedua unsur ini harus jelas dalam liturgi karena liturgi mewujudkan pertemuan yang sangat indah antara Tuhan dan umat-Nya.[10]
C. UNSUR-UNSUR LITURGI
C.1. FAKTOR-FAKTOR LITURGI
Kalau kita mencermati liturgi maka kita akan menemukan banyak faktor yang membentuk liturgi. Faktor-faktor ini bersama-sama menghasilkan suatu tata ibadah yang konkret di suatu tempat tertentu, dalam situasi dan waktu tertentu. Beberapa faktor penting yang dapat kita temukan diantaranya :
a. Faktor Alkitab
Tidak ada asas lain untuk ajaran Gereja selain Alkitab bagi Gereja Kristen Protestan. Setiap orang Kristen tunduk kepada Firman Allah, karena ia mengaku bahwa Firman itu bukan firman manusia, melainkan Firman Allah yang satu-satunya. Oleh karena itu Alkitab punya wibawa mutlak dalam kehidupan orang Kristen,dalam Gereja dan dalam Ilmu Teologi. Oleh karena itu liturgi juga taat kepada Alkitab karena liturgi merupakan buah karya manusia. Sehingga unsur-unsur yang ada dalam liturgi tidak mungkin lepas dari kewibawaan Alkitab bahkan yang mendasari liturgi. Beberapa dasar Alkitabiah yang dipakai dalam Alkitab diantaranya KPR.13:2; Roma 15:16,27; II Kor 9:12.
b. Faktor Ajaran Gereja (Dogma)
Ajaran Gereja juga memberikan warna dalam penetapan liturgi. Kita dapat melihat bagaimana dogma sangat mempengaruhi liturgi di dalam Gereja Katolik; ekaristi dan ajaran transubstansi.[11] Gereja Baptis liturginya sangat dipengaruhi oleh ajaran tentang baptisan orang dewasa. Gereja Reformasi menekankan pentingnya pelayanan Firman (sola scriptura), sehingga khotbah mendapat tempat sentral dalam kebaktian Reformasi. Dalam Gereja Reformasi faktor dogma erat berkaitan dengan faktor Alkitab. Gereja Reformasi mengakui sebagai dalil utama, bahwa dasar ajarannya adalah Firman Tuhan. Oleh karena itu wewenang ajaran Gereja sama pentingnya dengan faktor Alkitab, dengan demikian ajaran gereja mempunyai tempat penting dalam proses menetapkan suatu liturgi.
C. Faktor Persekutuan Gereja
Dalam penetapan sebuah liturgi suatu jemaat tidak dapat dengan sekehendaknya menentukan liturgi yang dipakai. Tentunya jemaat/gereja yang ada terikat dalam Persekutuan-Persekutuan Gereja (Gereja–Gereja Reformasi misalnya), sehingga apabila sebuah persidangan memutuskan dan menentukan suatu tata ibadah, dengan maksud supaya semua Gereja memakai tata ibadah itu, maka peraturan itu bersifat perintah mutlak, yaitu berdasarkan ketentuan bersama-sama dalam Persekutuan Gereja. Contohnya, Sinode GKJ menentukan beberapa model liturgi dan ditetapkan sebagai tata ibadah yang harus dipakai dalam kebaktian. Dengan demikian Gereja-Gereja Kristen Jawa tidak bebas lagi menyusun tata kebaktiannya sendiri. Mereka terikat kepada keputusan bersama di tingkat sinode.
d. Faktor Sejarah Gereja
Gereja yang hidup sekarang tidak dapat lepas dan dipisahkan dengan Gereja yang hidup pada masa lampau. Apa yang ada dan terjadi dalam Gereja sekarang merupakan perkembangan ataupun warisan dari Gereja masa lampau. Demikian juga dalam hal liturgi, liturgi yang ada sekarang tidak mungkin lepas dari liturgi yang ada di masa lampau. Sejarah Gereja, demikian pula sejarah liturgi turut mempengaruhi unsur liturgi yang ada sekarang. Hal tersebut menunjukkan bahwa Gereja yang hidup sekarang ini bertanggung jawab untuk mengkaji perlindungan dan memelihara, dan untuk belajar dari sejarah Gereja.
Ajaran sejarah Gereja (juga dibidang liturgi) merupakan sumber yang penting untuk kehidupan Gereja sekarang. Bisa dikatakan bahwa faktor ini tidak bersifat mutlak namun penting dan menolong kita untuk mempertimbangkan pola liturgi yang sesuai dengan masa sekarang, sebab dalam sejarah liturgi dapat kita lihat contoh-contoh dari praktek liturgi.
Apabila kita mencermati suatu penetapan liturgi maka kita melihat bahwa banyak faktor yang membentuk sebuah liturgi, sehingga juga tidak mudah untuk merubah atau mengganti liturgi. Jika terjadi proses penetapan dan penggantian liturgi maka haruslah dipertimbangkan faktor-faktor yang ada agar supaya liturgi yang tersusun dapat betul-betul menjadi sarana penunjang ibadah yang baik dan dapat dirasakan dialog antara Tuhan dan umat dalam liturgi.
D. UNSUR-UNSUR LITURGI.[12]
Liturgi/tata ibadah tersusun dari berbagai unsur yang kesemuanya mempunyai arti dan makna khusus dalam satu-kesatuan liturgi. Unsur-unsur yang ada dalam liturgi tersebut adalah:
1. Adiutorium atau Votum dan Salam
Ibadah selalu diawali dengan pengakuan masing-masinh jemaat dalam hatinya: “Pertolongan kita adalah dalam nama Tuhan yang menjadikan langit dan bumi” (Mzm 124:8). Sesuai dengan pengakuan itu, pembukaan ibadah disebut Adiutorium yang artinya pertolongan. Gereja-Gereja Calvinis memakai istilah votum untuk pembukaan ibadah, artinya: janji yang khidmad atau ikrar (pengakuan). Votum bukanlah perkataan kosong, tetapi suatu perbuatan penting, yang mengubah suatu pertemuan yang tidak teratur menjadi suatu pertemuan yang teratur.[13] Dari votum dapat kita ketahui bahwa ibadah yang diadakan hanya karena pertolongan Tuhan saja, juga tersirat Tuhan hadir dan menyertai ibadah yang diadakan dalam ibadah jemaat bersama.
Votum dirangkai dengan salam. Salam yang biasa kita pakai (GKJ) biasadiambil dari I Kor.1:3; “Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu”. Salam ini diucapkan oleh pelayan dan mendapat tanggapan dari umat dengan mengatakan ’Amin”.
2. Memuji Tuhan dengan Kidung (Pujian)
Pada bagian ini terdiri dari nyanyian masuk dengan atau tanpa nas pembimbing atau nas pendahuluan. Bagian ini dikenal juga dengan istilah introitus. Jikalau dipakai nas pembimbing maka nyanyian yang dipakai juga disesuaikan dengan nas khotbah dan nyanyian pujian itu dinyanyikan oleh jemaat.
3. Pengakuan Dosa
Pada bagian ini terdiri dari 5 bagian:
a. Pembacaan Hukum Kasih
Jemaat menerima pembacaan Hukum Kasih sebagai cermin kehidupan yang sudah dijalaninya. Pembacaan Hukum kasih diambil dari Alkitab, misalnya: Mat 22:37-40.
b. Penyesalan
Setelah menerima Hukum Kasih, jemaat mengakui dan menyesali dosanya. Pengakuan dan penyesalan dosa dapat dilakukan dengan doa, litani, atau dengan nyanyian penyesalan. Untuk pemakaian rumus pengakuan dosa diharapkan ada beberapa pilihan dan untuk menghindari kebiasaan pengucapan tanpa makna.
c. Berita Anugerah
Sesudah ada pengakuan dosa dari jemaat, jemaat menerima Berita Anugerah, dengan mengutip ayat-ayat dari Alkitab. Pelayan bertindak sebagai hamba Tuhan yang menyampaikan pengampunan dosa. Dalam bagian ini jemaat yang dengan sungguh hati mengakui dosanya maka anugerah selalu ada bagi mereka.
d. Petunjuk Hidup Baru
Orang-orang yang telah menerima anugerah atau pengampunan dosa masuk ke dalam persekutuan hidup baru di dalam Tuhan Yesus Kristus. Oleh karena itu jemaat lalu diberi petunjuk-petunjuk hidup baru, yang juga diambil dari ayat-ayat Alkitab. Petunjuk Hidup baru yang diberikan dimaksud agar jemaat yang telah menerima pengampunan dosa dimampukan untuk menjalani kehidupan sebagai orang yang telah diperbaharui hidupnya menjadi anak-anak Allah.
e. Nyanyian Kesanggupan
Bagian ini merupakan jawab umat setelah mendapatkan anugerah pengampunan dan petunjuk hidup baru. Jawab umat kepada Allah dengan berjanji hendak melakukan apa yang menjadi perintah dan kehendak Tuhan. Jawab umat tersebut diwujudkan dalam bentuk nyanyian dan nyanyian yang dipilih juga harus sesuai dengan maksudnya yaitu nyanyian yang menyatakan kesanggupan untuk menjalankan perintah dan kehendak Allah.
4. Doa
Doa ini merupakan doa syukur dan syafaat. Pada Gereja-Gereja Calvinis doa syafaat ditempatkan sebelum atau sesudah khotbah. Bentuk doa syafaat yang kita kenal umumnyta berbentuk pidato atau doa bebas, ada pula doa syafaat yang berbentuk formula-formula. Kekurangan doa bebas yang diucapkan oleh pelayan terkadang sulit untuk diikuti umat terlebih kalau doanya panjang dan tidak dipersiapkan dengan baik terlebih dahulu. Pokok-pokok doa syafaat berhubungan dengan kehidupan intern Gereja dan ekstern Gereja, diantaranya untuk Gereja dan dunia, pejabat Gereja dan anggota jemaat, untuk rahib-rahib dan biarawan-biarawan, untuk kaisar (pemeritah) dan tentara, untuk orang-orang kafir, untuk orang yang hidup di dalam kesusahan.[14]
5. Persembahan
Pada jaman Perjanjian Baru persembahan yang dikumpulkan oleh jemaat dikumpulkan oleh diaken untuk kemudian dibagi-bagikan kepada orang-orang miskin. Persembahan mereka masih berupa hasil bumi namun dalam abad XI bentuk itu diganti dengan uang.[15]
Oleh Gereja lama, persembahan/pemberian jemaat, diartikan sebagai persembahan korban dalam ibadah mereka. Namun pengertian ini mendapat tantangan keras, sebab persembahan korban sudah digenapi dan Tuhan Yesus sendiri sebagai persembahan korban, sekali untuk selamanya. Persembahan atau pemberian jemaat dalam abad-abad pertama mengambil tempat penting dalam diakonia jemaat. Bukan saja dibagikan kepada orang miskin, janda, anak yatim piatu dan orang hukuman, tapi juga dibagikan kepada orang-orang asing di dalam jemaat.[16]
Persembahan yang kita kenal sekarang dalam liturgi kita terdiri dari 3 bagian:
a. Sebelum pengumpulan persembahan didahului dengan pembacaan dari ayat-ayat Alkitab, yang dimaksudkan untuk mendorong atau memberikan dasar dan tujuan mereka dalam mempersembahkan, sehingga mereka tahu betul makna mereka memberikan persembahan.
b. Pengumpulan persembahan dengan kantong. Jumlah dan macam kantong yang beredar harus diketahui oleh jemaat sehingga dengan kesadaran penuh mereka akan menghaturkan persembahannya.
c. Setelah persembahan terkumpul kemudiam dihaturkan pada Tuhan dalam doa. Dalam liturgi GKJ doa persembahan dilanjutkan dengan pelayanan Firman.
6. Pelayanan Firman
Unsur ini terdiri dari Epiklese, pembacaan Alkitab dan khotbah. Sebelum pembacaan Alkitab didahului dengan epiklese atau doa yang memohon kedatangan Roh Kudus, agar Firman Allah dapat diberitakan dan didengarkan dengan baik. Akan tetapi kita melihat kebiasaan di GKJ epiklese digabungkan dengan doa persembahan yang tentunya kurang dapat diterima karena epiklese merupakan doa yang berdiri sendiri sebelum pembacaan Alkitab, doa tersebut erat hubungannya dengan pembacaan Alkitab.
Pembacaan Alkitab sebagai bagian yang penting dalam ibadah. Pembacaan Alkitab dalam ibadah dapat kita lihat dalam ibadah Synagoge dan kebiasaan ini diambil alih oleh jaman Perjanjian Baru. Pembacaan Alkitab dalam Gereja mula-mula diambil dari Taurat, Kitab-Kitab, Injil-Injil dan Surat-Surat. Pembacaan Alkitab dapat dengan sistem perikop, sistem bersambung, atau juga menurut kalender gerejawi. Pembacaan Alkitab itu bermaksud bahwa dengan adanya pembacaan Alkitab berarti Tuhan Allah berkata-kata kepada jemaatnya melalui nabi-nabi, penginjil-penginjil dan rasul-rasul-Nya, serta menunjukkan bahwa gereja berusaha membawa jemaat ke dalam suatu huungan yang hidup dengan seluruh Alkitab.[17]
Hubungan antara pembacaan Alkitab dengan khotbah sangat erat, karena apa yang telah dibacakan harus diberikan juga artinya (Luk.4:16-22; Kis.13:15). Luther dan Calvin menekankan juga hubungan yang erat antara pembacaan Alkitab dan khotbah, bahkan mereka katakan jikalau pembacaan Alkitab tidak diafsirkan dan diterangkan, maka ia tidak ada gunanya bagi jemaat dan tidak membangun jemaat.[18] Kalau kita mengamati pada Gereja-Gereja Reformasi, khotbah mendapat tempat sentral dan seolah-olah menguasai keseluruhan ibadah. Anggapan demikian tentunya kurang tepat sebab khotbah adalah salah satu unsur saja dari liturgi, sama pentingnya dengan doa, nyanyian, dsb, sehingga tidak boleh dipertentangkan dengan yang lain.[19]
7. Doa Penutup
Bagian ini merupakan doa berakhirnya kebaktian dan diteruskan dengan pengucapan Doa Bapa Kami. Doa syukur Tuhan telah berfirman dan menyertai kebaktian/ibadah hingga akhir. Berakhirnya doa dilanjutkan dengan nyanyian penutup.
8. Pengakuan Iman
Pada mulanya Pengakuan Iman erat berhubungan dengan pelayanan baptisan dan pengakuan iman bersifat pribadi, yaitu diucapkan oleh orang-orang yang dibaptis. Kemudian sifat pribadi itu berangsur hilang dan menjadi sebuah pengakuan jemaat. Oleh karena pengakuan jemaat maka pengakuan iman harus diucapkan sendiri oleh jemaat dengan mulut dan hatinya. Pengakuan iman yang diucapkan dalam gereja-gereja sekarang umumnya adalah Pengakuan Iman Rasuli (Apostolicum). Pengakuan iman tersebut mempunyai fungsi sebagai rangkuman dari Injil dan sebagai jawab jemaat atas Firman Tuhan.
9. Berkat
Unsur ini sebagai unsur terakhir dalam ibadah jemaat. Berkat diterima oleh jemaat sebagai anugerah/pemberian dari Allah kepada jemaat melalui pelayan. Berkat disampaikan/diumumkan oleh pelayan dengan tangan terulur. Rumus berkat biasa diambil dari II Kor.13:13 atau Bil.6:24-26.
Demikian unsur-unsur yang terdapat dalam liturgi, yang masing-masing unsur mempunyai makna tersendiri dan unsur satu dengan unsur yang lain saling melengkapi dan sama pentingnya, sehingga liturgi harus dilihat sebagai satu kesatuan yang utuh, tidak boleh dilihat secara berat sebelah terhadap unsur-unsur tertentu.
E. MAKNA LITURGI DALAM IBADAH JEMAAT.
Setelah kita mengetahui istilah dan pengertian liturgi serta mencermati unsur-unsur yang ada dalam liturgi, maka kita menyadari bahwa liturgi bukan sekedar tata ibadah/media kebaktian yang sederhana. Akan tetapi kita menyadari bahwa begitu dalam dan berharga kekayaan sebuah liturgi. Liturgi jika dirasakan dan dihayati secara benar maka dari liturgi tersebut akan membawa makna yang sangat besar dalam kehidupan orang-orang percaya. Oleh karena itu sedapat mungkin jemaat yang beribadah mengetahui makna dari liturgi yang digunakan. Berikut beberapa makna yang dapat kita ambil dari liturgi yang dipakai dalam ibadah jemaat:
1. Liturgi sebagai Media Pertemuan Antara Allah dan Umat.
Kalau kita mencermati unsur-unsur yang ada dalam liturgi, kita akan menemukan suatu “pertemuan” antara Tuhan Allah dengan jemaat yang beribadah. Hal ini terjadi dengan adanya dua kegiatan yang terjadi dan menimbulkan dialog. Kegiatan yang datangnya dari Allah dan kemudian mendapat tanggapan dari umat, terjadilah dialog. Kegiatan yang datangnya dari Allah dapat kita rasakan pada unsur pembacaan hukum kasih, pemberian berita anugerah, pemberian petunjuk hidup baru, penyampaian firman dan berkat. Unsur-unsur tersebut datangnya dari Allah dan diperuntukkan bagi umat, apa yang datang dari Allah tersebut mendapat tanggapan dari umat yang dapat kita lihat dalam unsur pujian kepada Allah, kesanggupan atas perintah Allah, persembahan dan pengakuan iman kepada Allah, Terjadinya dialog inilah maka kita dapat mengambil makna bahwa liturgi sebagai tempat bertemunya Allah Yang Maha Kudus dengan umat-Nya.
Dalam ibadah yang ditata dengan lrt kita pada akhirnya dapat melihat, memandang dan menyaksikan keagungan Tuhan Allah. Tentu melihat dalam pengertian melihat dengan mata hati yang beriman, bukan dengan mata kepala. Melalui liturgi kita dapat bertemu dan melihat;kekuatan Allah semesta alam, kemuliaan Allah dan kekudusan-Nya, kasih setia-Nya, Allah sebagai Bapa Kristus menjadi Bapa kita, Yesus Kristus, KasihKristus yang merendahkan diri untuk kita, pembebasan oleh Dia, keselamatan oleh Dia, pendamaian, pengampunan dosa, kebangkitan daging, hidup yang kekal.[20]
Jadi liturgi dalam ibadah jemaat dapat kita lihat sebagai tempat pertemuan dan dialog antara Allah, yang memberikan berkat dan anugerah, dengan manusia sebagai penerima dan pelaksana perintah dan ketetapan Allah.
2. Liturgi sebagai Sarana Berkumpulnya Jemaat.
Jika kita bicara pada makna ini, maka harus kita perhatikan hubungan erat antara liturgi dan ibadah. Dalam bagian ini kita bicara liturgi sekaligus ibadah sebagai satu kesatuan yang berdiri bersama, sebab kita bicara liturgi dalam hubungan dengan ibadahdan jika berbicara tentang ibadah tentu juga akan berkaitan dengan penataan ibadah (liturgi). Dalam praktek pelaksanaan liturgi pastilaah kita mendapati orang-oranmg yang berkumpiul atau jemaat. Berkumpulnya jemaat ini merupakan ciri khas jemaat di tengah dunia. Setiap minggu mereka/orang Kristen meninggalkan rumah masing-masing, untuk pergi ke suatu tempat khusus, gereja. Dalam berkumpul ini mereka mneyatakan diri kepada dunia dan kepada Tuhan bahwa mereka berkumpul untuk bersatu alam iman. Berkumpul sebagai syarat bagi kehidupan jemaat, supaya dengan perkumpulan itu Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.[21]
Dalam ibadah liturgis terdapat persekutuan yang utuh dan kuat serta mengutamakan kepentingan bersama, persekutuan bersama yang terjadi mampu mengalahkan kepentingan pribadi, kepentingan keluarga daan meniadakan perbedaan. Berkumpulnya jemaat dalam ibadah liturgis menunjukkan suatu perkumpulan yang unik dan khas, sebab mampu menaidakan tembok-tembok pemisah antara umaat. Ibadah liturgis mampu mengumpulkan orang dari segala suku,segala kasta, dari segala warna kulit, tingkat intelegensia, daan dari segala tingkat sosial, untuk menjadi suatu jemaat yang tetaap satu. Dengan demikian kita mengambil makna sebuah liturgi sebagai media bersatunya jemaat dari seluruh dunia dan dari segala jaman, yaitu berkumpul di dalam Tuhan Yesus Kristus, Allah kita.
3.Liturgi sebagai Pelayanan
Kalau kita kembali kepadaa istilah liturgi, ditemukan arti sempit sebagai pelayan. Pada jaman Perjanjian Baru mengandung arti dinas, yakni pelayanan untuk rakyat, sedangkan dalam Perjanjian Lama mempunyai arti tugas kultus, yakni untuk menunjuk pelayanan imam-imam Yahudi di dalam kemah suci dan di dalam Bait Allah. Dan kita juga mengetahui pelaksana liturgi yang Agung yaitu Yesus Kristus (Ibr.8:1-2), Kristus sebagai pelayan (liturgi) telah menyempurnakan liturgi yang ada, upacara liturgi di dalam sorga yaitu pelayanan pendamaian.[22] Walaupun Kristus melaksanakan pelayanannya di surga, itu bukan berarti tidak ada pelayanan yang tinggal di dunia, sebaliknya, pelayanan dalam ibadah kita berkaitan dengan pelayanan Kristus di surga, ada hubungan antara pekerjaan Kristus dan ibadah di dunia. Kristus di hadapan Allah bertindak sebagai “pengantara” untuk jemaat di dunia (2 Kor.5:18,20). Pelayanan dalam jemaat di dunia juga dalam rangka untuk menyempurnakan jemaat. Pelayanan dalam liturgi dapat kita lihat 3 aspek penting:
a. Pelayanan Kristus kepada kita
Tuhan Yesus Kristus melalui liturgi memberi pelayanan pendamaian kepada kita. Pelayanan pendamaian yang dianugerahkan kepada kita.terwujud dalam pelayanan firman dan sakramen hingga kita memperoleh pembenaran dan kehidupan kekal.
b. Pelayanan kita kepada Allah
Dalam ibadah liturgis nampak pelayanan yang kita berikan kepada Allah. Pelayanan tersebut terwujud dalam unsur doa, persembahan dan syukur.
c. Pelayanan kita kepada Persekutuan
Dalam ibadah liturgis kita saling bersekutu, kita berdoa bersama-sama untuk persekutuan seutuhnya, kita mendengar firman bersama-sama, menyanyi dan memberi persembahan. Kebersamaan yang ada dalam pelaksanaan liturgi menunjukkan bahwa kita bersama-sama melakukan pelayanan dalam persekutuan.
Dengan demikian kita memahami bahwa liturgi yang ada bukan semata-mata untuk kepentingan pribadi dan melulu tempat kita “meminta dan menerima”, akan tetapi lebih daripada itu liturgi sebagai bentuk pelayanan, untuk “memberi”. Dalam liturgi berarti kita punya tanggung jawab untuk menjadi pelayan dan harus melayani, sebab dalam liturgi itu juga kita melihat pelayanan Yesus Kristus bagi kita, sudah seharusnya kita memberikan respon/tanggapan.
4. Liturgi sebagai Pembaharuan Perjanjian Anugerah.
Kita mengakui bahwa anugerah Allah yang kita terimaa (keselamatan) belum sempurna, kesempurnaan akan terjadi kelak pada kedatangan Tuhan kedua kali. Itu berarti anugerah yang telah kita terimaa masih harus terus dijaga, apalagi kita sangat rentan dengan dosa yang dapat merusak anugerah Allah. Kita sadari, bahwa kita masih sangat membutuhkan penyertaan dan bimbingan Tuhan dalam kita menjaga anugerah Allah. Liturgi yang kita pakai berulaang bukan berarti akan kehilangan makna dan arti, tapi liturgi sebagai pembaharuan perjanjian anugerah antara Allah dan manusia. Manusia seringkali melanggar dan merusak perjanjian anugerah Allah, namun karena Allah adalah setiaa maka Allah tetap mengasihi manusia dengan tetap memberikan pembaharuan Anugerah_nya yang nampak dalam keseluruhan liturgi. Dalam ibadah liturgis tersebut kedua pihak mengulangi dan meneguhkan janji-janji dan tuntutan-tuntutan mereka, Tuhan menerima hormat dan manusia menerima penghibuan serta peneguhan iman.
5. Liturgi sebagai Jiwa Umat
Kecenderungan Gereja-Gereja sekarang memahami arti liturgi secara sempit yaitu liturgi diartikan sebatas tata kebaktian dan ibadah. Kita perlu memahami arti yang lebih luas, karena orang Kristen tidak hidup ssebagaiKristen hanya pada hari Minggu, tapi menjadi Kristen setiap hari dan setiap saat dalam kehidupannya. Mereka harus memperhatikan semua janjinya kepada Allah dan memfungsikan janjinya di tengah-tengah masyarakat.
Dalam pengertian luas, liturgi diartikan sebagai pelayanan yang melingkupi seluruh kehidupan jemaat, seluruh konteks kehidupan jemaat. Demikian juga kita tidak dapat memisahkan ibadah liturgis kita dengan kehidupan sesehari kita, sebab apa yang terdapat dalam liturgi menjadi dasar dan arah hidup kita. Dengan demikian liturgi menjiwai umat dalam kehidupan sehari-hari, liturgi tidak hanya berfungsi pada hari Minggu saja.
Alkitab berbicara luas sekali tentaang pelayanan kita setiap hari, aartinya kita berbakti kepada Tuhan (=mengadakan liturgi) setiap haari. Ringkasan Hukum Taurat menunjukkan pada kita bahwa kita tiap hari mengadakan liturgi, yaitu untuk melayani Dia dengan segenap hati, jiwa dan kekuatan, dan Undang-Undang Tuhaan ini berlaku untuk setiap hari. Rasul Paulus alam Roma 12:1, menunjukkan pada kita bahwa hidup kita adalah sebagai ibadah yang sejati, berarti hidup kita harius dijiwai oleh liturgi sebagai bentuk pelayanan kepada Allah. Penghormatan terhadap Allah pada hari pertama setiap minggu, tidak boleh terbatas hanya dalam ruang gedung Gereja saja, tapi harus keluar melampaui dinding gedung Gereja serta melampaui hari ke hari, hari Minggu mempengaruhi hari lain.
Kita tidak boleh memisahkan kehidupan menjadi dua bagian; satu bagian untuk kehidupan biasa, dan satu bagian untuk kehidupan ibadah. Tidak ada dua bidang atau tingkat dalam kehidupan kita, biasa dan suci. Perbuatan Tuhan juga tidak terbatas, tidak hanya meliputi salah satu bagian kehidupan, Tuhan menyelamatkan bukan sebagian hidup kita, tapi seluruh kehidupan. Ibadah liturgis yang terjadi pada hari Minggu sudah semestinya memberi warna, bentuk dan keindahan dalam kehidupan Kristiani kita sehari-hari. Dengan demikian kita mengetahui bahwa liturgi sangat erat kaitannya dengan kehidupan umat seutuhnya, dengan perkataan lain liturgi berfungsi sebagai jiwa/makna hidup bagi umat dalam rangka menjalani hari-hari mereka di dunia.
6. Liturgi sebagai Cermin Ibadah Surgawi
Sifat manusia sebagai orang berdosa tidak berubah, manusia tetap peka terhadap dosa, walaupun mendapat kekuatan Roh Kudus untuk melawan dosa, juga untuk menang dan untuk memperbaharui hidup kita. Demikian pula dalam ibadah liturgis, dia tidak bisa sempurna selama masih di dunia, akan disempurnakan pada waktunya di surga. Dalam ibadah kita melihat kenyataan dosa-dosa kita, sehingga dalam ibadah perlu ada nasehat-nasehat, ada pengampunan dosa dari Tuhan kepada umat. Oleh karena liturgi sekarang belum sempurna dan baru sempurna pada waktunya di surga maka dapat kita ambil maknanya bahwa ibadah liturgis/liturgi yang ad dalam dunia sekarang ini merupakan cermin ibadah surgawi.
Demikianlah beberapa makna yang dapat kita ambil dari suatu liturgi yang dipakai dalam ibadah jemaat. Bukan sekedar susunan atau tata urutan kebaktian namun jauh lebih dalam dan kaya makna yang ada di dalamnya.
F. PENUTUP
Setelah kita membaca uraian Bab I-IV tentang liturgi, kita mendapatkan bahwa liturgi bukanlah sekedar tata urutan untuk mengatur jalannya peribadatan. Liturgi juga bukan merupakan tempat untuk mencari kesenangan sementara, mencari kelepasan dengan suatu suasana yang gegap gempita, sorak-sorai, khotbah yang berapi dan mencari humor, namun kebalikan dari itu semua, Ibadah Liturgis yang terjadi sungguh merupakan suatu pertemuan, suatu dialog, media memberi dan menerima, sebagai pembaharuan anugerah, dan sebagai jiwa umat.
Dengan demikian liturgi bukan hanya dibutuhkan, tapi liturgi sebagai yang betul-betulbermakna bagi hidup dan kehidupan umat sebab liturgi menyatu dan menjiwai kehidupan umat. Oleh karena itu sebelum orang mengkritisi, ingin mengubah, ataupun menolak suatu liturgi/ibadah ada baiknya dia harus betul-betul memahami arti, unsur-unsur dan makna yang terkandung dalam sebuah liturgi. Lain halnya dengan orang yang dengan sungguh menerima dan memahami liturgi, maka dia akan dapat merasakan hidup dan kehidupannya sebagai sukacita dan melihat anugerah Allah yang terpancar dari dalam liturgi. Dengan demikian kita melihat bahwa liturgi tidak hanya mempunyai makna dalam ibadah jemaat, tapi juga menjadi sentral bagi kehidupan orang-orang percaya, umat Allah.
G. PUSTAKA:
1. Abineno, Dr., Apa Kata Alkitab, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1983.
2. Abineno, Dr., Unsur-Unsur Liturgi, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1966.
3. Riemer.G., Cermin Injil, OMF, Jakarta, 1995.
4. -------------, Liturgi GKJ, Sinode GKJ, Salatiga. 1994.
5. -------------, Tata Gereja GKJ, Sinode GKJ, Salatiga, 1999.
C/windows/yaw/sar.lit
-yaw-
* Makalah disusun oleh Pdt.Yosafat AW, SSi dalam Pembimbingan Khotbah, disampaikan dalam Sarasehan Majelis GKJ Cilacap, Rabu 07 Mei 2003 bertempat di Kel. Dkn. Dwi Setyo Putranto, BSc Jl. Kutilang 212 Cilacap.
[1]----------------, Liturgi GKJ, Sinode GKJ, Salatiga. 1994, hal. 1.
[2] Abineno, Dr., Apa Kata Alkitab, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1983, hal. 12.
[3] S.c.n. 2, hal. 12
[4] S.c.n. 2, hal. 13
[5] Septuaginta adalah terjemahan Perjanjian Lama dari bahasa Ibrani ke dalam bahasa Yunani. Disebut Septuaginta (LXX) karena menurut cerita (yang tidak pasti) Perjanjian Lama diterjemahkan oleh 70 orang penerjemah, kira-kira 200 SM.
[6] Riemer.G., Cermin Injil, OMF, Jakarta, 1995, hal.10.
[7] S.c.n. 1, hal.2.
[8] s.c.n. 2, hal. 15.
[9] -------------, Tata Gereja GKJ, Sinode GKJ, Salatiga, 1999, Pasal 41:3, hal. 34.
[10] S.c.n. 1, hal. 3.
[11] S.c.n. 6, hal. 29.
[12] Urut-urutan disajikan berdasarkan liturgi/tata ibadah GKJ
[13] Abineno, Dr., Unsur-Unsur Liturgi, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1966, hal. 8.
[14] S.c.n. 13, hal. 87-89.
[15] S.c.n. 13, hal. 98.
[16] S.c.n. 13, hal. 104.
[17] S.c.n. 13, hal. 52-53
[18] S.c.n. 13, hal. 57
[19] S.c.n. 13, hal. 60
[20] S.c.n. 6, hal. 42.
[21] S.c.n. 6, hal. 58
[22] S.c.n. 6, hal. 69.
Minggu, 24 Februari 2008
BAHAN PA IBU-IBU 27 MARET 08
BAHAN PEMAHAMAN ALKITAB IBU-IBU GKJ CILACAP
Rabu, 27 Pebruari 2008
Bacaan : Lukas 9 : 51 - 62
Tujuan : Jemaat dapat mengambil keputusan pribadai serta mengikut Yesus dengan setia, yaitu mengikut Yesus dalam segala keadaan baik suka maupun duka.
1. Nyanyian Pembukaan, Kidung Jemaat 375
2. Doa Pembukaan
3. Pembacaan Alkitab, Lukas 9 : 51 - 62
4. Pengantar PA:
MENJADI PENGIKUT YANG SETIA
Masih banyak anggota jemaat dan umat Kristen saat ini masih menghayati makna mengikut Tuhan Yesus hanya untuk menginginkan berkat dan rezeki serta kemakmuran, tetapi mereka melupakan untuk mengikut Dia dalam penderitaan, kematian dan kebangkitanNya. Kalau sebatas ini yang dipahami maka tidak heran jikalau orang dengan semangat berkata: “Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi”. Ucapan yang sama juga diucapkan oleh salah seorang murid Tuhan Yesus. Dia berkata kepada Tuhan Yesus: “Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi” (Luk. 9:57). Keinginan dari murid Yesus tersebut seakan-akan sangat rohani dan setia, sebab dia akan “mengikut Yesus ke mana saja Dia pergi”. Padahal dia tidak menyadari bahwa mengikut Tuhan Yesus berarti dia harus siap dan bersedia untuk menderita, ditolak, dihina dan hidup dalam kekurangan materi. Itu sebabnya Tuhan Yesus memberi jawaban: “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalaNya” (Luk. 9:58). Ungkapan Tuhan Yesus tersebut mau menyatakan bahwa Dia sebenarnya tidak memiliki apa-apa secara duniawi. Dia adalah Anak Allah yang mulia, tetapi sekaligus Dia adalah Anak Manusia yang miskin. Jadi bilamana seseorang mau mengikut Kristus, berarti dia harus bersedia untuk tidak terikat dengan apapun secara duniawi sehingga dia dapat berjalan bersama dengan Kristus tanpa halangan.
Jawaban Tuhan Yesus yang berkata: “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalaNya” (Luk. 9:58) juga hendak mengingatkan bahwa Dia sebelumnya telah ditolak oleh orang-orang Samaria ketika Dia hendak melewati daerah mereka (Luk. 9:52-53). Jadi mengikut Dia berarti bersedia untuk ditolak oleh sesama tanpa harus menjadi marah dan tersinggung. Sebab kedua murid Tuhan Yesus, yaitu Yakobus dan Yohanes berkata dengan marah ketika orang-orang Samaria menolak, sehingga mereka berkata: “Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?” (Luk. 9:54). Bukankah kita juga seringkali bersikap seperti kedua murid Tuhan Yesus tersebut, yaitu kita menjadi marah manakala kehadiran dan karya pelayanan kita ditolak oleh sesama? Karena itu kita kemudian mohon agar Tuhan menjatuhkan hukuman dan murkaNya kepada orang-orang yang membenci dan menolak iman Kristen dan pelayanan gerejawi. Makna mengikut Kristus berarti kita dipanggil untuk menjadi orang-orang yang kaya dengan pengampunan kepada setiap orang yang melawan dan yang membenci kita.
Apabila orang pertama menyatakan ingin mengikut Tuhan Yesus ke mana saja Dia pergi tetapi dengan pemahaman yang salah. Maka kepada orang kedua, Tuhan Yesus memanggil dia: “Ikutlah Aku!” Tetapi ternyata orang kedua tersebut berkata: “Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapaku” (Luk. 9:59). Perkataan orang kedua ini sepertinya ingin menunjukkan kesetiaan seorang anak kepada orang-tuanya di Sepuluh Firman, yaitu: “Hormatilah ayah dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan Tuhan Allahmu kepadamu” (Kel. 20:12). Padahal di balik alasan yang sangat rohani itu, tersirat suatu penolakan halus bahwa dia tidak dapat mengikut Kristus selama ayahnya masih hidup. Halangan dia untuk mengikut Kristus adalah “kasih” yang begitu besar kepada ayahnya, sehingga dia memutuskan untuk tidak mengikut Kristus sementara waktu. Padahal mengikut Kristus berarti sikap seseorang yang bersedia mengasihi Kristus lebih dari pada segala sesuatu termasuk kasih kepada ayah-ibu, kakak dan adik bahkan keluarga (bandingkan Mat. 10:37-38). Jawaban Tuhan Yesus sungguh tajam kepada mereka yang menjadikan kepentingan keluarga sebagai yang utama, yaitu: “Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana” (Luk. 9:60).
Nada yang hampir sama juga diungkapkan oleh orang ketiga dalam hal mengikut Tuhan Yesus. Dia berkata kepada Tuhan Yesus, yaitu: “Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku” (Luk. 9:61). Orang ketiga tersebut tampaknya mengalami kesulitan untuk menentukan sikap dan mengambil keputusan yang sangat pribadi dalam mengikut Tuhan Yesus. Itu sebabnya dia terlebih dahulu minta persetujuan dari keluarganya. Dia tidak dapat mengambil keputusan sendiri, sebab keluarganya yang mampu memutuskan arah atau jalan hidup dan keputusan yang harus dia ambil. Karena itu orang ketiga tersebut sebenarnya tidak memiliki kematangan iman yang siap mengikut Kristus dengan segala konsekuensinya. Itu sebabnya Tuhan Yesus memberi jawab: “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah” (Luk. 9:62). Ketika kita terus menengok ke belakang atau masa lalu, kita tidak pernah dapat mengikut Kristus karena kita tidak memiliki visi hidup yang jelas.
Seorang murid yang baik bukan hanya mampu menyerap semua ilmu yang telah diajarkan oleh gurunya, tetapi juga dia harus mengasihi dan tidak pernah meninggalkan gurunya dalam keadaan apapun juga. Apalagi ketika kita mengikut Tuhan Yesus sebagai Juru-selamat dunia. Kita tidak hanya menyerap pengajarannya, tetapi apakah kita juga selalu setia mengikut Kristus ke manapun Dia pergi termasuk ketika Kristus menyongsong kesengsaraan dan kematianNya. Dan apakah kita selaku jemaatNya mau meninggalkan segala sesuatu yang menghalangi diri kita untuk mengikut Kristus. Sebab seringkali terjadi tubuh fisik kita saja yang tampaknya mengikut Kristus, tetapi sesungguhnya roh atau jiwa kita masih terikat dengan berbagai hal yang duniawi.
5. Panduan Diskusi
1. Bagi saudara, apakah makna mengikut Yesus? Jelaskan!
2. Hal-hal apasaja yang sering menjadi hambatan/ketakutan seseorang untuk mengikut Yesus dengan setia dan bertanggung jawab?
3. Apa yang mendasari/memotivasi kita tetap mengikut Yesus dengan setia meski kita sering menghadapi ancaman dan penolakan dari sesama?
4. Bagaimanakah kita dapat mengikatkan diri kepada keluarga dan pekerjaan tanpa harus meninggalkan kasih kepada Tuhan Yesus?
6. Nyanyian Akhir, Kidung Jemaat 370
7. Doa Penutup
Rabu, 27 Pebruari 2008
Bacaan : Lukas 9 : 51 - 62
Tujuan : Jemaat dapat mengambil keputusan pribadai serta mengikut Yesus dengan setia, yaitu mengikut Yesus dalam segala keadaan baik suka maupun duka.
1. Nyanyian Pembukaan, Kidung Jemaat 375
2. Doa Pembukaan
3. Pembacaan Alkitab, Lukas 9 : 51 - 62
4. Pengantar PA:
MENJADI PENGIKUT YANG SETIA
Masih banyak anggota jemaat dan umat Kristen saat ini masih menghayati makna mengikut Tuhan Yesus hanya untuk menginginkan berkat dan rezeki serta kemakmuran, tetapi mereka melupakan untuk mengikut Dia dalam penderitaan, kematian dan kebangkitanNya. Kalau sebatas ini yang dipahami maka tidak heran jikalau orang dengan semangat berkata: “Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi”. Ucapan yang sama juga diucapkan oleh salah seorang murid Tuhan Yesus. Dia berkata kepada Tuhan Yesus: “Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi” (Luk. 9:57). Keinginan dari murid Yesus tersebut seakan-akan sangat rohani dan setia, sebab dia akan “mengikut Yesus ke mana saja Dia pergi”. Padahal dia tidak menyadari bahwa mengikut Tuhan Yesus berarti dia harus siap dan bersedia untuk menderita, ditolak, dihina dan hidup dalam kekurangan materi. Itu sebabnya Tuhan Yesus memberi jawaban: “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalaNya” (Luk. 9:58). Ungkapan Tuhan Yesus tersebut mau menyatakan bahwa Dia sebenarnya tidak memiliki apa-apa secara duniawi. Dia adalah Anak Allah yang mulia, tetapi sekaligus Dia adalah Anak Manusia yang miskin. Jadi bilamana seseorang mau mengikut Kristus, berarti dia harus bersedia untuk tidak terikat dengan apapun secara duniawi sehingga dia dapat berjalan bersama dengan Kristus tanpa halangan.
Jawaban Tuhan Yesus yang berkata: “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalaNya” (Luk. 9:58) juga hendak mengingatkan bahwa Dia sebelumnya telah ditolak oleh orang-orang Samaria ketika Dia hendak melewati daerah mereka (Luk. 9:52-53). Jadi mengikut Dia berarti bersedia untuk ditolak oleh sesama tanpa harus menjadi marah dan tersinggung. Sebab kedua murid Tuhan Yesus, yaitu Yakobus dan Yohanes berkata dengan marah ketika orang-orang Samaria menolak, sehingga mereka berkata: “Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?” (Luk. 9:54). Bukankah kita juga seringkali bersikap seperti kedua murid Tuhan Yesus tersebut, yaitu kita menjadi marah manakala kehadiran dan karya pelayanan kita ditolak oleh sesama? Karena itu kita kemudian mohon agar Tuhan menjatuhkan hukuman dan murkaNya kepada orang-orang yang membenci dan menolak iman Kristen dan pelayanan gerejawi. Makna mengikut Kristus berarti kita dipanggil untuk menjadi orang-orang yang kaya dengan pengampunan kepada setiap orang yang melawan dan yang membenci kita.
Apabila orang pertama menyatakan ingin mengikut Tuhan Yesus ke mana saja Dia pergi tetapi dengan pemahaman yang salah. Maka kepada orang kedua, Tuhan Yesus memanggil dia: “Ikutlah Aku!” Tetapi ternyata orang kedua tersebut berkata: “Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapaku” (Luk. 9:59). Perkataan orang kedua ini sepertinya ingin menunjukkan kesetiaan seorang anak kepada orang-tuanya di Sepuluh Firman, yaitu: “Hormatilah ayah dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan Tuhan Allahmu kepadamu” (Kel. 20:12). Padahal di balik alasan yang sangat rohani itu, tersirat suatu penolakan halus bahwa dia tidak dapat mengikut Kristus selama ayahnya masih hidup. Halangan dia untuk mengikut Kristus adalah “kasih” yang begitu besar kepada ayahnya, sehingga dia memutuskan untuk tidak mengikut Kristus sementara waktu. Padahal mengikut Kristus berarti sikap seseorang yang bersedia mengasihi Kristus lebih dari pada segala sesuatu termasuk kasih kepada ayah-ibu, kakak dan adik bahkan keluarga (bandingkan Mat. 10:37-38). Jawaban Tuhan Yesus sungguh tajam kepada mereka yang menjadikan kepentingan keluarga sebagai yang utama, yaitu: “Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana” (Luk. 9:60).
Nada yang hampir sama juga diungkapkan oleh orang ketiga dalam hal mengikut Tuhan Yesus. Dia berkata kepada Tuhan Yesus, yaitu: “Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku” (Luk. 9:61). Orang ketiga tersebut tampaknya mengalami kesulitan untuk menentukan sikap dan mengambil keputusan yang sangat pribadi dalam mengikut Tuhan Yesus. Itu sebabnya dia terlebih dahulu minta persetujuan dari keluarganya. Dia tidak dapat mengambil keputusan sendiri, sebab keluarganya yang mampu memutuskan arah atau jalan hidup dan keputusan yang harus dia ambil. Karena itu orang ketiga tersebut sebenarnya tidak memiliki kematangan iman yang siap mengikut Kristus dengan segala konsekuensinya. Itu sebabnya Tuhan Yesus memberi jawab: “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah” (Luk. 9:62). Ketika kita terus menengok ke belakang atau masa lalu, kita tidak pernah dapat mengikut Kristus karena kita tidak memiliki visi hidup yang jelas.
Seorang murid yang baik bukan hanya mampu menyerap semua ilmu yang telah diajarkan oleh gurunya, tetapi juga dia harus mengasihi dan tidak pernah meninggalkan gurunya dalam keadaan apapun juga. Apalagi ketika kita mengikut Tuhan Yesus sebagai Juru-selamat dunia. Kita tidak hanya menyerap pengajarannya, tetapi apakah kita juga selalu setia mengikut Kristus ke manapun Dia pergi termasuk ketika Kristus menyongsong kesengsaraan dan kematianNya. Dan apakah kita selaku jemaatNya mau meninggalkan segala sesuatu yang menghalangi diri kita untuk mengikut Kristus. Sebab seringkali terjadi tubuh fisik kita saja yang tampaknya mengikut Kristus, tetapi sesungguhnya roh atau jiwa kita masih terikat dengan berbagai hal yang duniawi.
5. Panduan Diskusi
1. Bagi saudara, apakah makna mengikut Yesus? Jelaskan!
2. Hal-hal apasaja yang sering menjadi hambatan/ketakutan seseorang untuk mengikut Yesus dengan setia dan bertanggung jawab?
3. Apa yang mendasari/memotivasi kita tetap mengikut Yesus dengan setia meski kita sering menghadapi ancaman dan penolakan dari sesama?
4. Bagaimanakah kita dapat mengikatkan diri kepada keluarga dan pekerjaan tanpa harus meninggalkan kasih kepada Tuhan Yesus?
6. Nyanyian Akhir, Kidung Jemaat 370
7. Doa Penutup
Langganan:
Postingan (Atom)