BAHAN PEMAHAMAN ALKITAB IBU-IBU GKJ CILACAP
Rabu, 27 Pebruari 2008
Bacaan : Lukas 9 : 51 - 62
Tujuan : Jemaat dapat mengambil keputusan pribadai serta mengikut Yesus dengan setia, yaitu mengikut Yesus dalam segala keadaan baik suka maupun duka.
1. Nyanyian Pembukaan, Kidung Jemaat 375
2. Doa Pembukaan
3. Pembacaan Alkitab, Lukas 9 : 51 - 62
4. Pengantar PA:
MENJADI PENGIKUT YANG SETIA
Masih banyak anggota jemaat dan umat Kristen saat ini masih menghayati makna mengikut Tuhan Yesus hanya untuk menginginkan berkat dan rezeki serta kemakmuran, tetapi mereka melupakan untuk mengikut Dia dalam penderitaan, kematian dan kebangkitanNya. Kalau sebatas ini yang dipahami maka tidak heran jikalau orang dengan semangat berkata: “Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi”. Ucapan yang sama juga diucapkan oleh salah seorang murid Tuhan Yesus. Dia berkata kepada Tuhan Yesus: “Aku akan mengikut Engkau, ke mana saja Engkau pergi” (Luk. 9:57). Keinginan dari murid Yesus tersebut seakan-akan sangat rohani dan setia, sebab dia akan “mengikut Yesus ke mana saja Dia pergi”. Padahal dia tidak menyadari bahwa mengikut Tuhan Yesus berarti dia harus siap dan bersedia untuk menderita, ditolak, dihina dan hidup dalam kekurangan materi. Itu sebabnya Tuhan Yesus memberi jawaban: “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalaNya” (Luk. 9:58). Ungkapan Tuhan Yesus tersebut mau menyatakan bahwa Dia sebenarnya tidak memiliki apa-apa secara duniawi. Dia adalah Anak Allah yang mulia, tetapi sekaligus Dia adalah Anak Manusia yang miskin. Jadi bilamana seseorang mau mengikut Kristus, berarti dia harus bersedia untuk tidak terikat dengan apapun secara duniawi sehingga dia dapat berjalan bersama dengan Kristus tanpa halangan.
Jawaban Tuhan Yesus yang berkata: “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepalaNya” (Luk. 9:58) juga hendak mengingatkan bahwa Dia sebelumnya telah ditolak oleh orang-orang Samaria ketika Dia hendak melewati daerah mereka (Luk. 9:52-53). Jadi mengikut Dia berarti bersedia untuk ditolak oleh sesama tanpa harus menjadi marah dan tersinggung. Sebab kedua murid Tuhan Yesus, yaitu Yakobus dan Yohanes berkata dengan marah ketika orang-orang Samaria menolak, sehingga mereka berkata: “Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?” (Luk. 9:54). Bukankah kita juga seringkali bersikap seperti kedua murid Tuhan Yesus tersebut, yaitu kita menjadi marah manakala kehadiran dan karya pelayanan kita ditolak oleh sesama? Karena itu kita kemudian mohon agar Tuhan menjatuhkan hukuman dan murkaNya kepada orang-orang yang membenci dan menolak iman Kristen dan pelayanan gerejawi. Makna mengikut Kristus berarti kita dipanggil untuk menjadi orang-orang yang kaya dengan pengampunan kepada setiap orang yang melawan dan yang membenci kita.
Apabila orang pertama menyatakan ingin mengikut Tuhan Yesus ke mana saja Dia pergi tetapi dengan pemahaman yang salah. Maka kepada orang kedua, Tuhan Yesus memanggil dia: “Ikutlah Aku!” Tetapi ternyata orang kedua tersebut berkata: “Izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan bapaku” (Luk. 9:59). Perkataan orang kedua ini sepertinya ingin menunjukkan kesetiaan seorang anak kepada orang-tuanya di Sepuluh Firman, yaitu: “Hormatilah ayah dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan Tuhan Allahmu kepadamu” (Kel. 20:12). Padahal di balik alasan yang sangat rohani itu, tersirat suatu penolakan halus bahwa dia tidak dapat mengikut Kristus selama ayahnya masih hidup. Halangan dia untuk mengikut Kristus adalah “kasih” yang begitu besar kepada ayahnya, sehingga dia memutuskan untuk tidak mengikut Kristus sementara waktu. Padahal mengikut Kristus berarti sikap seseorang yang bersedia mengasihi Kristus lebih dari pada segala sesuatu termasuk kasih kepada ayah-ibu, kakak dan adik bahkan keluarga (bandingkan Mat. 10:37-38). Jawaban Tuhan Yesus sungguh tajam kepada mereka yang menjadikan kepentingan keluarga sebagai yang utama, yaitu: “Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana” (Luk. 9:60).
Nada yang hampir sama juga diungkapkan oleh orang ketiga dalam hal mengikut Tuhan Yesus. Dia berkata kepada Tuhan Yesus, yaitu: “Aku akan mengikut Engkau, Tuhan, tetapi izinkanlah aku pamitan dahulu dengan keluargaku” (Luk. 9:61). Orang ketiga tersebut tampaknya mengalami kesulitan untuk menentukan sikap dan mengambil keputusan yang sangat pribadi dalam mengikut Tuhan Yesus. Itu sebabnya dia terlebih dahulu minta persetujuan dari keluarganya. Dia tidak dapat mengambil keputusan sendiri, sebab keluarganya yang mampu memutuskan arah atau jalan hidup dan keputusan yang harus dia ambil. Karena itu orang ketiga tersebut sebenarnya tidak memiliki kematangan iman yang siap mengikut Kristus dengan segala konsekuensinya. Itu sebabnya Tuhan Yesus memberi jawab: “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah” (Luk. 9:62). Ketika kita terus menengok ke belakang atau masa lalu, kita tidak pernah dapat mengikut Kristus karena kita tidak memiliki visi hidup yang jelas.
Seorang murid yang baik bukan hanya mampu menyerap semua ilmu yang telah diajarkan oleh gurunya, tetapi juga dia harus mengasihi dan tidak pernah meninggalkan gurunya dalam keadaan apapun juga. Apalagi ketika kita mengikut Tuhan Yesus sebagai Juru-selamat dunia. Kita tidak hanya menyerap pengajarannya, tetapi apakah kita juga selalu setia mengikut Kristus ke manapun Dia pergi termasuk ketika Kristus menyongsong kesengsaraan dan kematianNya. Dan apakah kita selaku jemaatNya mau meninggalkan segala sesuatu yang menghalangi diri kita untuk mengikut Kristus. Sebab seringkali terjadi tubuh fisik kita saja yang tampaknya mengikut Kristus, tetapi sesungguhnya roh atau jiwa kita masih terikat dengan berbagai hal yang duniawi.
5. Panduan Diskusi
1. Bagi saudara, apakah makna mengikut Yesus? Jelaskan!
2. Hal-hal apasaja yang sering menjadi hambatan/ketakutan seseorang untuk mengikut Yesus dengan setia dan bertanggung jawab?
3. Apa yang mendasari/memotivasi kita tetap mengikut Yesus dengan setia meski kita sering menghadapi ancaman dan penolakan dari sesama?
4. Bagaimanakah kita dapat mengikatkan diri kepada keluarga dan pekerjaan tanpa harus meninggalkan kasih kepada Tuhan Yesus?
6. Nyanyian Akhir, Kidung Jemaat 370
7. Doa Penutup
Minggu, 24 Februari 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
2 komentar:
Memjadi Pengikut Yang Setia
Kesetiaan, itu yang diharapkan Tuhan dari kita. Kesetiaa bermula dari kepercayaan dan komitmen kita pada keselamatan yang telah diberikan oleh Yesus Kristus.
Setia bermakna bahwa kita memiliki hati, pikiran dan tindakan yang menyatu dengan kehendak Yesus
menjadi pengikut yang setiaa. bukan perkara yang mudah untuk dilekukan oleh seorang pengikut Kristus. terutama ketika mereka berhadapan dengan penderaitaan dan kesulitan hidup.
Posting Komentar